Sanggau – VSI – Semangat inovasi lahir dari pelosok Desa Sungai Dangin, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau. Seorang petani jagung binaan Polsek Noyan bernama Riko berhasil menciptakan mesin pengering jagung sederhana yang mampu membantu petani mengatasi berbagai kendala pascapanen, khususnya saat musim hujan.
Inovasi tersebut lahir dari pengalaman Riko yang telah lebih dari satu tahun menekuni budidaya jagung. Selama menjalankan usaha pertaniannya, ia kerap menghadapi persoalan yang sama setiap musim panen, yakni proses pengeringan jagung yang masih bergantung pada sinar matahari dan kondisi cuaca.
Ketidakpastian cuaca, keterbatasan lahan penjemuran, serta lamanya waktu pengeringan sering kali berdampak pada kualitas hasil panen. Situasi tersebut mendorong Riko untuk mencari solusi yang lebih efektif, efisien, dan terjangkau bagi para petani.
Ide tersebut muncul setelah dirinya mengikuti kegiatan panen raya yang diselenggarakan Polres Sanggau di lahan miliknya. Dalam kegiatan tersebut, ia melihat penggunaan alat pengering mekanis yang mampu mempercepat proses pascapanen dan menjaga kualitas hasil pertanian.
Terinspirasi dari pengalaman tersebut, Riko kemudian mulai merancang dan membangun mesin pengering jagung secara mandiri bersama anggota keluarganya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, ia berhasil menciptakan alat pengering sederhana yang diberi nama “Bad Driyer”.
Mesin tersebut menggunakan bak penampung berukuran sekitar 1,5 meter x 2 meter dengan tinggi 70 sentimeter yang dibuat dari konstruksi semen. Pada bagian bawahnya dipasang jaring logam sebagai ruang sirkulasi panas untuk mendistribusikan suhu secara merata ke seluruh tumpukan jagung.
Sebagai sumber panas, alat ini memanfaatkan kompor semprot hasil modifikasi yang menggunakan bahan bakar oli bekas. Untuk mempercepat distribusi udara panas, dipasang blower bertenaga listrik yang berfungsi mendorong panas ke seluruh ruang pengering sehingga proses pengeringan berlangsung lebih optimal.
Hasil yang diperoleh cukup signifikan. Dalam satu kali proses pengeringan, mesin Bad Driyer mampu menampung lebih dari dua ton jagung dengan waktu pengeringan sekitar enam jam. Konsumsi bahan bakar juga tergolong sangat hemat, yakni kurang dari dua liter oli bekas untuk setiap siklus pengeringan.
Selain mempercepat proses pascapanen, alat tersebut mampu menghasilkan kadar air jagung berkisar antara 9 hingga 11 persen. Angka tersebut berada di bawah standar maksimum kadar air yang ditetapkan Bulog, yakni 14 persen, sehingga kualitas hasil panen menjadi lebih baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Kapolsek Noyan, IPTU Suharyanto, S.H., memberikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan oleh Riko. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa petani lokal memiliki kemampuan dan potensi besar dalam menciptakan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di sektor pertanian.
“Riko merupakan salah satu petani jagung binaan Polsek Noyan yang telah kami dampingi selama lebih dari satu tahun. Inovasi yang ia ciptakan menunjukkan bahwa semangat, kreativitas, dan kemauan untuk maju dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi petani lain dalam mendukung program ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Saat ini, mesin Bad Driyer tidak hanya dimanfaatkan oleh Riko untuk mengeringkan hasil panennya sendiri, tetapi juga telah digunakan oleh sejumlah petani jagung lainnya di Desa Sungai Dangin.
Keberadaan alat tersebut menjadi contoh nyata bahwa inovasi sederhana yang lahir dari desa mampu memberikan dampak besar terhadap peningkatan produktivitas pertanian. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, kreativitas petani lokal menjadi modal penting dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun nasional.















